[Review Buku] - Novel I Am A Cat Karya Soseki Natsume Langsung ke konten utama

[Review Buku] - Novel Imprisonment Karya Akiyoshi Rikako

  Judul: Imprisonment Penulis: Akiyoshi Rikako Penerjemah: Andry Setiawan Penerbit: Haru Tahun Terbit: Desember 2023 Tebal: 276 halaman ; 19 cm ISBN: 978-623-5467-19-1   BLURB Yukie sudah kewalahan merawat anak sambil bekerja. Ia memutuskan untuk resign dan malam ini adalah malam terakhirnya. Ia menitipkan putrinya kepada suaminya di rumah. Akan tetapi, suaminya tidak membalas pesan, tidak pula menjawab telepon.... *** PLOT TWIST TIDAK TERDUGA, STALKER DAN PSIKOPAT, ISU SOSIAL YANG RELEVAN DENGAN KEHIDUPAN, DAN AKHIR CERITA YANG OPTIMIS Sebagai pencinta karya Akiyoshi Rikako, sudah sewajarnya untuk menantikan karya terbaru beliau. Apalagi dengan ciri khasnya yang selalu menempel di setiap novelnya, seperti plot twist yang tak terduga; isu-isu yang sangat relevan dengan kehidupan; dan narasinya yang selalu nyaman untuk dibaca dan diikuti. Dalam novel ini, walaupun ceritanya cukup menegangkan, intens dan ada adegan kekerasannya, tapi aku merasa cerita...

[Review Buku] - Novel I Am A Cat Karya Soseki Natsume

 


Judul: I Am A Cat

Penulis: Soseki Natsume

Penerjemah: Laila Qadria

Penerbit: Immortal Publishing

Tahun Terbit: Cetakan ke-2, 2022

Tebal: xvi + 516 halaman ; 14 x 21 cm

ISBN: 978-623-7778-54-7

 

BLURB

Aku seekor kucing. Sampai saat ini, aku tidak punya nama. Aku tidak ingat tempat lahirku. Namun, aku ingat pertama kali bertemu manusia saat sedang mengeong-ngeong di tempat gelap dan basah. Belakangan kudengar, dia adalah manusia yang ditakuti kucing. Dia seorang shohei; pelajar yang tinggal menumpang suatu rumah dan membantu pekerjaan rumah tangga di tempat itu. Dia sering menangkap kucing, lalu memasak dan mamakannya. Namun, karena saat itu aku belum tahu soal ini, jadi aku tidak takut sama sekali.

***

SATIRE TERHADAP MANUSIA, KUCING, DAN SANG PENULIS

Ada kesan tersendiri bisa membaca terjemahan novel klasik Jepang ini yang kira-kira kalau menghitung ke novel aslinya sudah berumur 1 abad lebih. Sebuah hal menarik bagiku untuk mengetahui bagaimana penulis dulu menceritakan ceritanya. Apalagi tokoh utamanya adalah seekor kucing yang jago satire.

Secara umum novel ini memperlihatkan sindiran dari sudut pandang kucing terhadap manusia, mengenai perilaku dan sikap mereka yang egois, keras kepala, tidak tahu diri, juga mengenai kondisi dan status sosial saat itu, dan banyak hal lain yang aku kira itu masih relevan dengan keadaan kita sekarang ini.

Di awal cerita aku suka cerita yang dibawakan penulis. Gayanya yang menarik, unik, menghibur, cukup memberikan kesan pertama yang baik pas bacanya. Novel ini menggunakan sudut pandang pertama, yaitu si kucing. Tapi entah kenapa aku lebih merasa sosok si kucing ini malah seperti narator yang menceritakan keseharian para manusia, terutama keseharian si Master –tuan Sneeze.

Pada beberapa momen si kucing menceritakan dirinya yang berkelana, menetap di rumah si Master, bertemu dengan kucing lainnya di sekitar situ dan hal acak lainnya. Di momen lainnya, sosok kucing menghilang ketika memasuki perbincangan atau interaksi para manusia. Seolah sudut pandang si kucing dalam novel ini berubah menjadi sudut pandang manusia. Bagiku disini, penulis tidak konsisten dengan sudut pandang ceritanya. Bahkan bisa dikatakan pada bab-bab selanjutnya, lebih banyak sudut pandang manusia.

Kemudian satire terhadap manusia secara umum saat itu, secara tidak langsung mengerucut menjadi satire terhadap kelompok tertentu. Terus agak disayangkan sosok kucing yang digambarkan kehebatan dan keunikannya, pada beberapa saat memudar, menghilang, seolah ini bukan novel tentang si kucing yang menyindir kehidupan manusia.

Kembali ke gaya penulis membawakan cerita, secara keseluruhan aku sangat suka. Penulis bisa membahasakan atau menarasikan suatu hal yang mungkin biasa-biasa saja, diolah menjadi sangat menarik dan menghibur. Apalagi dengan sudut pandang kucing dan bahasa yang satire, bagiku penulisnya jago menarasikan hal tersebut. Jenaka tapi makna tersembunyi di dalamnya.

Sama seperti obrolan-obrolan sehari-hari para tokoh manusia novel ini yang dibawakan penuh jenaka, sindiran, kritik, dan ada makna tersendiri. Bagiku penulis disini memperlihatkan bagaimana sosok atau gambaran manusia yang bermacam-macam watak dan kelakuannya.

Penokohan dalam novel ini cukup jelas. Bagaimana watak dan sifat mereka yang unik-unik, bijaksana dan eksentrik juga, terlihat dari interaksi, tanggapan, atau sikap mereka ketika bertemu. Setiap tokoh disampaikan dengan baik, menarik dan memiliki daya tariknya masing-masing. Di novel ini juga banyak kita temui referensi sastra barat dan juga dari Cina yang memperlihatkan ketertarikan penulis pada dunia sastra.

Diantara semua bab atau volume di novel ini, volume terakhir sangat berkesan dan sangat filosofis juga. Mungkin di bab atau volume sebelumnya, apa yang diceritakan terkesan biasa-biasa saja, pada volume terakhir ini pembahasannya jadi lebih dalam dan nilai filosofisnya cukup kental.

Beberapa kutipan yang menurutku menarik pada volume terakhir novel ini:

“Kalau kau mau mengomel, mengomel saja. Paling tidak perasaanmu jadi lega untuk sementara.... tiap orang berbeda. Kau tidak bisa menyamakan orang lain dengan dirimu.” (Hlm. 333)

“....orang yang memaksakan diri supaya sesuai dengan dunia yang dihuni saat ini biasanya sering berkelahi, bunuh diri, bahkan menghasut orang untuk melakukan kerusuhan.” (Hlm. 333-334)

“Hal-hal di luar jangkauan pemahaman manusia memiliki daya tarik tersendiri yang tak bisa diabaikan begitu saja; sesuatu yang tak bisa diukur, terasa mulia. Itu sebabnya, orang awam gampang memuji segala sesuatu yang tak dimengerti, sementara kaum terpelajar sulit mengungkapkan maksud mereka dengan kata-kata yang mudah dimengerti...” (Hlm. 357)

“Pelayan masyarakat yang punya reputasi buruk ini kadang-kadang malah menangkap orang tak bersalah atas dasar tuduhan palsu dan bukti yang sudah direkayasa.” (Hlm. 395)

“Mereka makhluk yang menciptakan penderitaan mereka sendiri tanpa alasan yang jelas.” (Hlm. 398)

“Begitulah manusia, heboh sendiri minta diberi tahu di mana letak kesalahan mereka, sementara pada waktu yang sama mereka mondar-mandir dengan plakat ‘manusia hebat’ terpasang di punggung.” (Hlm. 426)

“.... orang-orang terhormat biasanya punya moral yang diragukan.” (Hlm. 427)

“Manusia harus selalu mawas diri supaya tidak dibutakan oleh kebiasaan.” (Hlm. 492)

Sebenarnya masih banyak lagi kutipan menarik pada volume terakhir ini. Pada volume sebelumnya juga banyak kutipan-kutipan menarik, tapi lupa aku beri tanda hehe... Intinya pada volume terakhir ini bagiku sangat padat, berisi, filsafatnya juga ada –Konfusius, Zen, dan lain-lain, dan banyak nilai filosofisnya.

Terakhir mengenai akhir cerita novel ini, entah kenapa penulis disini terkesan kehabisan ide dan tidak ada alasan tertentu yang akhirnya membuat si kucing mati tenggelam. Walaupun akhir ceritanya agak kurang, tapi melihat isi novel ini secara keseluruhan, aku pikir masih memberikan kesan, renungan tersendiri bagi pembacanya dan sindiran yang masih relevan di zaman sekarang.

My rated: 8/10

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini